copian cerita dari seorang teman


Senyumlah, maka Dunia pun Turut Tersenyum Bersamamu

Senyum menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI (Balai Pustaka, 1999) berarti gerak tawa ekspresif yang tidak bersuara untuk menunjukkan rasa senang, gembira, suka, dan sebagainya dengan mengembangkan bibir sedikit. Senyum adalah gambaran jiwa, cermin kepribadian dan tingkah laku seseorang.
Indonesia adalah salah satu negara yang masyarakatnya ramah serta murah senyum, bahkan salah seorang presidennya, yaitu Soeharto, terkenal dengan sebutan The Smiling General. Semasa memerintah, dia banyak membuat kebijakan dikemas dengan senyum, dan ini mungkin merupakan senyum khas Indonesia.
Budaya senyum khas ini memang merupakan keahlian masyarakat kita, bahkan kadang-kadang masyarakat kita pandai bersandiwara dalam hal mengubah wajah. Manakala sepasang suami istri tengah bertengkar hebat, lalu tiba-tiba pintu diketuk tamu, mereka segera bisa mengubah wajah yang tegang menjadi wajah yang cerah penuh senyum. Pintu dibuka, kemudian tamu disambut dengan ceria, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Apa pun bentuknya, senyum banyak membawa manfaat. Menurut penelitian Biro Sosial Jenny Consultant di London, Inggris, 98 persen manusia yang sehat perlu memberi dan menerima senyuman. Bahkan 78 persen dari jumlah itu menyebutkan bahwa mereka tidak bisa hidup tanpa senyuman.
Dalam Islam, sebuah senyuman merupakan bentuk ibadah yang berpahala dan sangat dianjurkan untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Nabi Muhammad SAW dalam suatu kesempatan pernah bersabda, ”Tersenyum ketika bertemu dengan saudara kalian adalah termasuk ibadah.” (HR Imam Turmudzi, Ibn Hibban, dan Al-Baihaqi).
Beliau juga bersabda, ”Sesungguhnya Allah membenci orang-orang yang bermuka masam di hadapan saudara-saudaranya.” (HR Ad-Dailamy dari Ali, Al-Sayuthi 67). Sabda beliau yang lain, ”Adalah Rasulullah SAW tidak membicarakan sesuatu berita kecuali (sambil) tersenyum.” (HR Ahmad dari Abu Darda).
Menurut penuturan Aisyah RA, Rasulullah SAW adalah figur suami yang mulia dan bijak di hadapan istri-istri beliau. Hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Asyakir dari Aisyah mengungkapkan, ”Adalah Rasulullah SAW ketika bersama istri-istrinya merupakan seorang suami yang paling luwes dan semulia-mulianya manusia yang dipenuhi dengan gelak-tawa dan senyum simpul.”
Kesaksian Imam At-Tirmidzi meriwayatkan pula bahwa, ”Belum pernah aku menemukan orang yang paling banyak tersenyum seperti halnya Baginda Rasulullah SAW.” Dalam catatan sejarah, Na’im merupakan salah seorang sahabat yang sering membuat Rasulullah SAW tersenyum.
Socrates pernah disodori segelas racun sebagai hukuman mati. Dengan jiwa besar ia menerimanya sambil tersenyum. Kemudian ia berkata, ”Kuanggap minum racun ini bukan sebagai hukuman, tapi sebagai upah yang harus aku terima atas pendapat-pendapatku.” Oleh karena itu, mari kita tebarkan senyum. Jangan ragu-ragu untuk mau menerima dan memberikan senyuman kepada saudara-saudara kita, agar hilang duka nestapa dan tetap terjalin ukhuwah.

PESAN TERAKHIR
Terbaring di sebuah rumah sakit, seorang pria sekarat tergopoh-gopoh menggapai dan membuat gerakan seolah-olah ada sesuatu yang akan ia katakan kepada pendo’a disampingnya. Sang pendo’a, mencoba mengamati dan pelan-pelan bertanya:
“Adakah sesuatu yang ingin anda katakan ?”. Pria itu mengangguk menegaskan, pendo’a itu segera memberikan secarik kertas dan pulpen yang tak lepas dari genggamannya, kemudian berkata:
“Saya tahu anda tidak mampu berbicara, tapi tulislah disini apa yang ingin anda utarakan dan akan saya berikan kepada istri anda, saya berjanji tidak akan membacanya”.
Dengan sisa-sisa kekuatannya, pria itu menuliskan pesan terakhirnya dan memberikannya kepada sang pendo’a, tak lama kemudian ia meninggal dunia.
Setelah memimpin ritual pemakaman, pendo’a itu mendekati istri almarhum. Kemudian diberikannya catatan akhir suaminya dan berkata, “Tepat sebelum suami yang anda cintai meninggal dunia, ia menuliskan pesan terakhir ini untukmu”.
Dengan bergelimang air mata, sang istri membaca pesan yang ditinggalkan suaminya, yang berbunyi:
..
“SALURAN OKSIGENNYA JANGAN DIINJAK, DONG!!!!!!!”
Nah, bukankah senyum itu indah dilihat banyak orang🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s